
Banyak anak dan remaja yang mengalami perundungan (bullying) di sekolah tidak pernah menceritakannya secara langsung kepada orang tua. Rasa takut dianggap “pengadu”, ancaman dari teman sebaya, atau perasaan malu membuat anak memilih memendam lukanya sendiri. Orang tua sering kali baru menyadari ada sesuatu yang salah ketika anak mulai mengeluh sakit perut setiap pagi sebelum berangkat sekolah, nilai akademiknya merosot tajam, atau karakternya berubah menjadi sangat tertutup.
Memahami dampak bullying pada anak dan remaja secara ilmiah membantu orang tua membedakan antara masalah adaptasi biasa dengan luka psikologis yang memerlukan pendampingan psikolog anak profesional.
Mengapa Dampak Bullying Tidak Boleh Dianggap “Candaan Anak Sekolah”?
Perundungan—baik berupa intimidasi verbal (ejekan, panggilan merendahkan), pengucilan sosial (dijauhi kelompok teman), kekerasan fisik, maupun perundungan siber (cyberbullying)—bukanlah bagian wajar dari proses pendewasaan anak. Tiga studi meta-analisis dan longitudinal berskala besar membuktikan dampak serius perundungan terhadap perkembangan otak dan kesehatan mental anak:
- Meningkatkan Risiko Depresi hingga 2,77 Kali Lipat pada Anak dan Remaja:
Studi meta-analisis oleh Ye et al. (2023) yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Psychiatry terhadap 31 penelitian (N = 133.688 anak dan remaja) menemukan bahwa anak yang menjadi korban bullying memiliki risiko mengalami gejala depresi 2,77 kali lebih tinggi (OR = 2,77, p < 0,001) dibandingkan anak yang tidak mengalami perundungan. Bahkan pada anak yang menjadi korban sekaligus pelaku reaktif (bully-victims), risiko depresi meningkat hingga 3,19 kali lipat. - Bukti Kausal terhadap Kecemasan Sosial, Keluhan Psikosomatis, dan Penurunan Akademik:
Tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Moore et al. (2017) dalam World Journal of Psychiatry yang merangkum 165 penelitian internasional menyimpulkan adanya bukti kausal yang kuat antara pengalaman dirundung di masa sekolah dengan munculnya gangguan kecemasan (anxiety), penarikan diri dari lingkungan sosial, keluhan fisik berulang tanpa sebab medis jelas (pusing, mual, gangguan tidur), serta penurunan motivasi belajar. - Luka Psikologis yang Dapat Bertahan hingga Usia Dewasa Bila Tidak Ditangani:
Studi longitudinal terkenal oleh Copeland et al. (2013) dalam JAMA Psychiatry yang memantau perkembangan anak hingga usia dewasa menunjukkan bahwa dampak perundungan yang dibiarkan tanpa intervensi psikologis dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan menyeluruh dan agorafobia hingga puluhan tahun kemudian.
5 Tanda Tersembunyi Anak Sedang Mengalami Bullying di Sekolah
Karena anak jarang berkata “Bu, aku di-bully di sekolah”, orang tua perlu peka terhadap lima perubahan perilaku berikut:
- Keluhan Fisik Setiap Pagi (School Refusal): Anak mendadak sering mengeluh sakit perut, pusing, atau mual setiap hari Minggu malam atau Senin pagi, namun tampak sehat saat hari libur.
- Perubahan Drastis antara Perilaku di Sekolah dan di Rumah: Anak menjadi sangat pendiam, cemas, dan menarik diri di lingkungan sekolah (kenali juga bedanya dengan anak yang pemalu di sekolah tetapi cerewet di rumah karena faktor temperamen).
- Konsentrasi Belajar dan Nilai Merosot Tiba-tiba: Ketika sistem saraf anak berada dalam mode siaga (fight-or-flight) akibat rasa tidak aman di kelas, memori kerja mereka terkuras sehingga anak tampak sulit fokus dan kehilangan minat belajar.
- Ledakan Emosi di Rumah (Displacement): Anak pulang sekolah dengan wajah murung, mudah menangis, atau justru mudah meledak marah kepada adik/orang tua karena memendam tekanan seharian. Dalam situasi ini, orang tua sangat disarankan tidak merespons dengan bentakan agar tidak menambah beban trauma anak (baca juga dampak membentak anak terhadap regulasi emosi mereka).
- Barang Milik Anak Sering Hilang atau Rusak Tanpa Penjelasan Logis: Buku tulis robek, alat tulis sering hilang, atau uang saku habis namun anak tampak ketakutan saat ditanya.
Langkah Pertama Orang Tua & Kapan Perlu Konseling Psikolog Anak
Saat anak mulai membuka cerita, hal terpenting yang dibutuhkan anak bukanlah interogasi atau kalimat yang menyalahkan (“Kenapa kamu diam saja?”), melainkan validasi rasa aman (“Terima kasih sudah berani cerita ke Ibu. Kamu tidak salah, dan Ibu ada di pihakmu”).
Apabila pengalaman perundungan sudah membuat anak menolak sekolah, mengalami mimpi buruk, kehilangan kepercayaan diri secara drastis, atau memerlukan surat rekomendasi psikologis resmi untuk mediasi dengan pihak sekolah, pendampingan melalui layanan konseling psikologi anak dan remaja maupun asesmen psikologi pendidikan di Ruang Hati Psikologi Sleman, Yogyakarta akan membantu memulihkan rasa aman dan resiliensi mental anak secara bertahap.
Pendampingan Aman & Ramah Anak Bersama Psikolog Ber-SIPP
Khawatir anak sedang mengalami tekanan teman sebaya, bullying, atau trauma sekolah? Diskusikan kondisi buah hati Anda terlebih dahulu bersama Admin Ruang Hati Psikologi (Tatap Muka di Mlati, Sleman, Yogyakarta & Konseling Online) untuk penentuan layanan yang paling tepat.
Daftar Pustaka
- Ye, Z., Wu, D., He, X., et al. (2023). Meta-analysis of the relationship between bullying and depressive symptoms in children and adolescents. BMC Psychiatry, 23, 215. https://doi.org/10.1186/s12888-023-04681-4
- Moore, S. E., Norman, R. E., Suetani, S., Thomas, H. J., Sly, P. D., & Scott, J. G. (2017). Consequences of bullying victimization in childhood and adolescence: A systematic review and meta-analysis. World Journal of Psychiatry, 7(1), 60–76. https://doi.org/10.5498/wjp.v7.i1.60
- Copeland, W. E., Wolke, D., Angold, A., & Costello, E. J. (2013). Adult psychiatric outcomes of bullying and being bullied by peers in childhood and adolescence. JAMA Psychiatry, 70(4), 419–426. https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2013.504
